Forget Me Not - Bab 5

Forget Me Not - Bab 4

 

"Astaga ...," jerit Anna panik.

Anna menyambar handuk, mandi kilat, berpakaian dengan cepat.

"Untung aku sudah menyiapkan ranselku," serunya.

Kemarin malam, Anna hanyut dalam kebahagiaan, tidur larut malam, tidak lain dan tidak bukan karena pikiran dan hatinya dipenuhi oleh Brian. Akibatnya, Anna bangun kesiangan–satu jam lebih lambat dari jam bangun biasanya.

"Aaa," jerit Anna, ujung kaki kanannya menyentuh kaki meja ketika akan mengambil ransel.

Sebelum memegang knop pintu apartemennya, Anna memeriksa ponsel, mulutnya mengerucut, campuran antara sedih dan malu. Sebuah pesan masuk dari Brian yang mengatakan sudah menunggu di stasiun semakin membuat Anna bersalah.

Kaki Anna melangkah secepat mungkin, tetapi beban ransel di pundak membuatnya kewalahan, bulir keringat mulai muncul di keningnya. Anna berhasil selamat sampai di lantai dasar, melewati pintu utama gedung dengan mulus–tanpa ada drama tersandung dan jatuh.

Sebelum kembali melangkah cepat di jalan, Anna mengetikkan kalimat permintaan maafnya kepada Brian. Anna berlari untuk memangkas perjalanan selama lima menit dari bangunan apartemen ke stasiun menjadi tiga menit. Dalam gerbong kereta bawah tanah, Anna terus merutuki keteledorannya.

Gerbong kereta penuh, Anna terpaksa berdiri, kakinya bergetar menahan beban ransel yang cukup berat.

“Ma ... ma-af, Bri-an.”

Anna terengah, napasnya putus-putus setelah berjalan cepat mencari keberadaan Brian di stasiun King Cross. Tidak cukup hanya melalui pesan singkat, Anna ingin mengucapkan permintaan maafnya secara langsung.

“Duduk dulu, An. Tenang saja, keretamu belum berangkat, masih setengah jam lagi. Ini, minumlah,” pinta Brian, menenangkan Anna, memberikan paper cup.

"Masih suka matcha, kan?"

Anna mengangguk.

"Terima kasih. Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Brian."

"Tidak apa-apa, An. Jam kerja masih lama, aku bisa menikmati pagiku dengan suasana berbeda di sini, menonton orang-orang."

Anna ikut bersandar di bangku panjang, menyeruput matcha yang diberikan Brian, hangat.

Anna lalu mendengarkan dengan saksama instruksi dari Brian tentang perjalanan menuju Edinburgh–entah hal tersebut sangat penting atau tidak, dalam pikirkan Anna saat ini hanyalah sikap Brian yang sangat perhatian padanya. 

"Kamu pasti belum sarapan," tebak Brian.

Anna mengangguk pelan, napasnya sudah stabil.

"Oke, ayo kita cari makanan buatmu dahulu, aku tidak mau kamu kelelahan dan melewatkan sarapan karena tuntutan pekerjaan," ajak Brian.

Anna memeriksa jam tangannya, memastikan waktunya cukup.

"Atau mau beli roti dan kue saja?" usul Brian, seolah tahu kekhawatiran Anna.

"Iya, itu saja," sahut Anna dengan menyembunyikan nada kecewanya.

Anna kecewa sekali melewatkan kesempatan sarapan dengan Brian. Namun, mau bagaimana lagi, salah Anna sendiri tidak bisa mengendalikan hormon bahagianya sampai tidak sadar waktu. Kebahagiaan kadang membuat waktu berjalan begitu cepat, melesat tanpa terasa.

"Kamu pasti suka ini. Favoritmu, keju," bisik Brian.

Tubuh Anna terlonjak mendengar suara Brian yang begitu dekat dengan hatinya. Mata Anna tertuju pada roti kue yang dipegang Brian.

"Mau pesan minuman lagi?" tawar Brian.

"Tidak perlu, ini sudah cukup," tolak Anna, mengangkat matcha yang tadi diberikan Brian.

Tidak perlu waktu lama, Anna sudah mendapatkan satu paper bag tambahan–berisi dua roti keju dan satu kue cokelat. Meskipun begitu, waktu yang tersisa makin menipis. Anna dan Brian segera menuju platform tempat kereta yang akan berangkat ke Edinburgh berada.

"Kabari aku kalau kamu sudah sampai," pesan Brian.

"Iya. Terima kasih sudah mengantarku, Brian."

"Iya, hati-hati. Byeee."

Anna melambaikan tangan sesaat sebelum menaiki gerbong kereta, membalas lambaian tangan Brian.

Anna duduk di kursinya tepat saat kereta mulai bergerak. Saat itulah Anna baru ingat belum membayar roti dan kuenya pada Brian.

"Astaga, kenapa sampai lupa. Seharusnya tadi aku langsung bayar waktu masih di gerai."

Anna bergumam seraya meletakkan paper bag dan cup matcha pada meja kecil di hadapannya. Tadi semuanya serba cepat, Anna seolah tidak diberi kesempatan berlama-lama dengan Brian pagi ini.

Posisi kursi Anna berada di samping jendela. Anna menoleh pada penumpang di sampingnya, tersenyum seramah mungkin kepada teman duduknya, meskipun penumpang tersebut tampak cuek-seorang remaja tanggung yang sibuk dengan earphone dan buku di tangan.

Senyum Anna hanya dibalas lirikan mata oleh remaja tersebut. Tidak mau mengganggu kegiatan teman duduknya, Anna pun mengalihkan pandangan ke jendela kereta, mencoba menikmati pemandangan.

Pantulan wajah Anna yang tersenyum-senyum sendiri beradu dengan pemandangan di luar jendela. Tangan Anna terangkat, meraih cup matcha di meja, menyeruput cairan berwarna hijau itu. Matcha yang diberikan oleh Brian sudah tidak hangat lagi, tetapi hati Anna masih hangat, kemungkinan akan semakin membara.

Tangan Anna lalu beralih ke paper bag, mengambil salah satu roti keju. Hati Anna berbunga-bunga, mengetahui Brian masih ingat dengan dirinya yang menyukai matcha dan keju. Anna kembali mengulum senyum sambil mengunyah roti keju yang membuat matanya melebar, enak.

Anna menghabiskan bekal sarapannya dengan pelan, menikmati setiap gigitan, menyeruput matcha sedikit demi sedikit agar tidak cepat habis. 

Perjalanan Anna kali ini diprediksi akan memakan waktu hampir 5 jam. Setelah menghambiskan sarapannya dalam waktu sangat lama–lebih dari setengah jam hanya untuk menyantap dua roti dan satu kue plus satu cup matcha, Anna membersihkan mejanya. Anna mengambil tas selempang, mengambil buku tipis yang sudah disiapkannya untuk dibaca saat di perjalanan.

Anna mendongak ketika remaja di sebelahnya melepaskan earphone dan berjalan ke arah belakang. Kemudian memulai sesi membaca, tetapi perhatiannya terusik karena remaja tadi belum juga kembali dalam waktu yang cukup lama.

"Apa dia ke cafe counter, ya?" tebak Anna seraya menoleh ke belakang.

Ketika akan kembali ke posisi semula, mata Anna bertemu dengan dua pasang mata dari seseorang yang duduk satu baris dengannya. Berbeda dengan remaja tadi, dua orang tersebut tersenyum ramah kepada Anna. Mata Anna hampir tidak berkedip beberapa detik. 

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Kalimat ajaib itu muncul secara otomatis dalam benak Anna, kalimat yang selama ini selalu menyemangati Anna untuk tetap percaya pada mimpi-mimpinya. Anna membalas senyum hangat dua pria beda generasi tersebut. Kemudian segera kembali bersandar di kursi, jantungnya tiba-tiba mendapatkan serangan. Salah satu pria–yang lebih muda, menjadi penyebab serangan pada organ jantung Anna.

Tidak mungkin salah, Anna juga tidak mungkin berhalusinasi sekarang. Anna melirik ke samping, pandangannya tertuju pada pria dengan kulit sawo matang tersebut, yang sekarang tengah asyik berbincang dengan pria yang lebih tua.

Anna memegangi dadanya, memantrai jantungnya agar tenang. Tidak mudah, pria berambut hitam lebat tadi telah menyedot perhatian Anna. Pikiran Anna terseret ke masa lalu, saat dirinya sedang dilanda kegilaan pada sosok pria yang dilihatnya dari gambar.

Kegilaan panjang Anna berawal dari berselancar di internet. Anna terpesona dengan tatapan bersahabat dan hangat dari seorang pria dalam sebuah potret. Anna pun menjadikan sosok pria tersebut sebagai 'tokoh khayalannya' saat membayangkan sebuah adegan novel.

Imajinasi seorang Anna terbilang cukup tinggi. Otak Anna akan menampilkan adegan dalam novel yang dibacanya, seolah nyata, menari-nari indah.

"Tidak, jangan sekarang." 

Anna menggeleng pelan, beberapa adegan dari novel favoritnya mendadak akan membuka pentas dalam pikirannya. Anna menolehkan kepalanya ke arah jendela, buku yang dikeluarkannya dari tas selempang tadi sudah tidak menarik lagi untuk dibaca. 

Anna ingin melirik ke arah pria itu sekali lagi. Jantungnya kembali diuji, Anna terlonjak pelan saat matanya bersitatap dengan pria tersebut.

Komentar